Berita UtamaFeature

Tak Pernah Ragu Melangkah, Sahlul Ikram Siagian Lolos ke Undip dan Siap Wujudkan Mimpi di Dunia Agribisnis

Kisaran (Humas). Sore itu, suasana terasa berbeda bagi Sahlul Ikram Siagian, salah satu siswa MAN Asahan Kampus 2 Rahuning. Di balik layar ponsel yang belum berani ia sentuh, tersimpan sebuah jawaban atas perjalanan panjang yang penuh doa dan harapan. Ia terdiam sejenak. Ragu. Bimbang. Bahkan sempat berpikir untuk tidak membuka pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) Tahun 2026.

Bukan tanpa alasan. Satu per satu temannya mulai menerima kenyataan pahit, tidak lulus. Rasa takut perlahan menyusup. Ia pun tak terlalu berharap. Namun, siapa sangka, keraguan itu justru berujung pada kabar yang mengubah hidupnya.

Nama Sahlul Ikram Siagian tertera sebagai salah satu peserta yang dinyatakan lulus di Universitas Diponegoro, jurusan Agribisnis. “Saya tidak pernah menyangka bisa lulus,” ucapnya pelan, mengenang momen yang hingga kini masih terasa seperti mimpi.

Impian itu sendiri sebenarnya baru ia rajut saat duduk di bangku kelas XII. Waktu yang terbilang singkat untuk menargetkan salah satu kampus terbaik di Indonesia, terlebih dengan jurusan yang dikenal memiliki tingkat persaingan tinggi.

Namun di balik keputusan itu, tersimpan mimpi yang jauh lebih besar dari sekadar masuk perguruan tinggi. Sahlul ingin menjadi bagian dari perubahan. Ia ingin terjun ke dunia pertanian, membuka peluang kerja, dan membawa manfaat bagi masyarakat luas. Inspirasi itu tumbuh dari sosok abang sepupunya yang lebih dulu menapaki jalan serupa berkiprah di bidang pertanian hingga pernah menjadi asisten di Kalimantan.

Perjalanan menuju titik ini tidaklah mudah. Ia menyadari betul bahwa peluangnya tidak selalu berada di posisi aman. Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang ia miliki bahkan sempat membuatnya merasa tertinggal. “Tantangan terbesar saya ada di nilai TKA yang bisa dibilang kurang bagus, sementara itu sangat berpengaruh,” ungkapnya, Kamis (06/4/2026).

Namun, satu hal yang tidak pernah berubah yakni keyakinannya. Di saat banyak orang mungkin mulai goyah, Sahlul justru memilih untuk tetap berdiri teguh. Ia tidak memberi ruang bagi kata “menyerah”.  “Saya tidak pernah menyerah, karena saya selalu optimis dengan keputusan yang saya buat,” tegasnya.

Hari-harinya diisi dengan kesederhanaan yang penuh makna. Sepulang sekolah, ia menuntaskan berbagai aktivitas, lalu menyisakan malam untuk belajar. Ia mengulang pelajaran, memperkuat pemahaman, dan menjaga konsistensi.

Di sela kesibukan itu, Sahlul juga aktif dalam berbagai kegiatan. Ia pernah tergabung dalam organisasi OSIM di bidang olahraga, mengikuti ekstrakurikuler voli, serta menjadi bagian dari kegiatan Paskibra yang membentuk kedisiplinan, ketangguhan, dan jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Tak hanya itu, ia juga aktif dalam kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), yang semakin mengasah kecintaannya terhadap Al-Qur’an sekaligus memperkuat nilai spiritual dalam kehidupannya.

Bagi Sahlul, aktivitas-aktivitas tersebut bukanlah penghambat, melainkan justru menjadi penyeimbang yang membentuk karakter dan mentalnya untuk tetap kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Di balik semua usaha itu, ada satu kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan yakni shalat lima waktu. Baginya, di sanalah kekuatan itu bermula.

Saat hasil kelulusan akhirnya ia buka, dunia seakan berhenti sejenak. Antara percaya dan tidak, antara haru dan syukur. Orang pertama yang ia hubungi adalah orang tuanya. Kebahagiaan itu pecah. Rasa bangga yang tak terucap sepenuhnya, namun begitu terasa. “Orang tua saya sangat bangga. Itu yang paling membuat saya bahagia,” ujarnya.

Bagi Sahlul, kelulusan ini bukan sekadar tentang dirinya. Ini adalah tentang harapan. Tentang masa depan. Tentang langkah pertama untuk mengubah nasib keluarga. “Ini menjadi langkah awal saya untuk merubah nasib keluarga,” katanya dengan penuh keyakinan.

Kini, jalan baru telah terbuka. Ia akan melangkah lebih jauh ke luar pulau, ke lingkungan baru, ke tantangan yang lebih besar. Namun, ia siap. Dengan mimpi yang sama, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Ia ingin belajar, berkembang, dan suatu hari nanti kembali dengan membawa perubahan membuka peluang kerja di bidang pertanian dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Di akhir ceritanya, Sahlul menyampaikan pesan sederhana, namun penuh makna bagi siapa saja yang tengah berjuang meraih mimpi. “Jangan ragu untuk melangkah, karena kita tidak pernah tahu hal indah apa yang telah menunggu kita di depan sana.”

Kisah Sahlul Ikram Siagian adalah pengingat bahwa harapan tidak selalu datang dari keyakinan yang sempurna, tetapi dari keberanian untuk tetap melangkah, bahkan saat diliputi keraguan. (wd)